Senin, 10 November 2014

Contoh “PERIBAHASA YANG BERTEMA PERSAHABATAN”


1)      Air besar, batu bersibak. (sibak = cerai, menepi).
Saudara dan sahabat berpecah-belah apabila timbul perselisihan besar.
2)      Bagai empedu lekat di hati.
Sangat karib (tentang orang bersahabat atau orang berkasih-kasihan).
3)      Berkuah sama menghirup, bersambal sama mencolek.
Persahabatan yang sangat karib.
4)      Seperti sendok dengan periuk sentuh-menyentuh.
Adakalanya terjadi perselisihan dengan sahabat.
5)      Terlentang sama makan abu, tengkurap sama makan tanah.
Kesetiaan dalam persahabatan atau percintaan sehingga ikhlas dalam menjalani hidup, baik suka maupun duka.
6)      Seperti inai dengan kuku.
Persahabatan yang sangat erat dan tidak akan dapat dipisahkan.
7)      Selapit ketiduran sebantal sekalang gulu.
Persahabatan yang sangat akrab.
8)      Sekain sebaju, selauk senasi.
Gambaran persahabatan atau ikatan percintaan yang seia sekata sehidup sepenanggungan.
9)      Jika cerdik teman berunding, jika bodoh disuruh diarah.
Sahabat yang tulus ikhlas dan suka membantu.
10)  Menuhuk kawan seiring menggunting dalam lipatan (menggunting dalam lipatan)
Suatu perilaku culas serta curang yang selalu berupaya membuat celaka kawan sendiri.

PROSA PERIBAHASA
Terlentang sama makan abu, tengkurap sama makan tanah.
‘Kesetiaan dalam persahabatan atau percintaan sehingga ikhlas dalam menjalani hidup, baik suka maupun duka’

            Peribahasa tersebut menggambarkan kepada kita bahwasannya sahabat yang baik dan sahabat yang sejati adalah mereka yang selalu ada di saat kita sedih maupun senang, saling mengingatkan ketika melakukan kesalahan, tulus serta ikhlas dalam membantu tanpa mengharap imbalan atau balas budi apapun.
            Sahabat tidak akan pernah saling melupakan, walaupun terpisah jarak dan waktu. Kasih sayang dalam persahabatan lebih tulus dan murni, karena dalam persahabatan tersebut akan saling memahami satu sama lain. Dalam persahabatan akan memunculkan sikap tolong menolong, simpati, kasih sayang bahkan tak jarang menumbuhkan cinta. Coba lihat, persahabatan selalu diakhiri dengan cinta, namun cinta tak selalu berakhir dengan persahabatan bukan?
            Bersahabatlah! Jadilah sahabat yang tulus, sahabat yang diandalkan dan dirindukan. Sahabat yang tulus merupakan bagian hidup yang tak dapat dipisahkan. Sahabat yang demikian itu merupakan sahabat super yang setiap orang tentu mendambakannya. Bisa dibayangkan apabila kita tidak memiliki sahabat sungguh hidup kita tidak akan berwarna.
            Sudahkah anda memiliki sahabat super?
            Semua itu akan terjawab saat kita mengalami pahit getirnya kehidupan. Mereka yang mendorong, merangkul, menggenggam tangan dan menyemangati adalah orang-orang terbaik yang pantas dikatakan sebagai sahabat super. Sebaliknya, mereka yang hanya hadir saat berada di puncak adalah mereka yang belum layak dicap sebagai sahabat.
            Bagaimana mungkin kita mendapatkan seorang sahabat jika kita sendiri tidak memiliki sikap kesetiakawanan. Maka dari itu sudah semestinya kita menjadikan diri kita sebagai tempat berteduh dan bersandar untuk para sahabat yang amat kita sayangi dan kasihi, terlebih apabila ia tertimpa kesedihan dan kesulitan.
            Teman mudah dicari, tapi sahabat sangat sulit didapatkan. Jadilah pribadi yang baik, pribadi yang menyenangkan, pribadi yang diidam-idamkan, pribadi yang mempunyai banyak sahabat dan menjadi sahabat super J
            Untuk lebih memahami arti sebuah persahabatan, mari kita perhatikan dan memaknai cerita tentang persahabatan di bawah ini. Semoga dengan membacanya, kita menjadi lebih yakin siapa yang pantas dikatakan sahabat super J
           

ARTI SAHABAT
            Ada dua orang sahabat, mereka bersahabat sejak kecil. Sebut saja, Yuda dan Ajeng. Mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama. Apa yang mereka kerjakan selalu diselesaikan dengan baik, tak ada satu hari pun mereka lewati tanpa bersama, kecuali saat matahari terbenam. Ya, mereka harus pulang ke rumahnya masing-masing. Karena mereka juga memiliki keluarga sendiri, bukan?
            Yuda dan Ajeng hidup di lingkungan keluarga yang berbeda.Yuda dilahirkan dari keluarga yang dihormati, ayahnya merupakan orang yang sangat berpengaruh di desanya. Ayah Yuda seorang kepala desa, meskipun demikian, Yuda dan keluarganya tidaklah angkuh. Mereka lebih senang hidup dalam kesederhanaan dan kerendah-hatian.
            Lain halnya dengan Ajeng. Seorang gadis desa yang penuh semangat, ceria, cerdas dan tolong menolongn. Ajeng tidak terlahir dari keluarga yang berkecukupan seperti Yuda. Orangtua Ajeng hanya seorang buruh tani miskin yang hidup seadanya. Walau pun demikian, keluarga Ajeng merupakan keluarga yang religius, Bu Yeyen dan Pak Ahmad selalu menasehati dan mendidik Ajeng agar menjadi seorang gadis yang taat beribadah dan tolong menolong kepada siapa pun.
            Setiap sore mereka selalu bercengkrama, menghabiskan waktu di pesawahan milik keluarga Yuda, sekedar bermain suling menikmati udara menantikan matahari terbenam.
            “Eh Yud, kamu ga malu ya? tanya Ajeng.
            “Apanya yang malu, Jeng? Kamu itu ya” jawab Yuda heran.
            “Dari kita bayi sampai sekarang sepertinya hanya aku teman yang kamu miliki. Kamu tak berpikir untuk mencari teman yang lain? Ya, teman yang sederajat sama kamu gitu”, Ajeng bersuara seraya membolak-balik suling yang dipegangnya.
            “Teman aku tuh banyak, bukan hanya kamu. Tapi, aku lebih nyaman sama kamu, karena buat aku, kamu tuh bukan sekedar teman melainkan sahabat sejati. Aku tak melihat siapa kamu, gimana kehidupan kamu karena cuma satu yang pasti, aku beruntung memiliki sahabat yang tulus seperti kamu, Jeng” kata Yuda.
            “Aku yang lebih beruntung Yud, karena aku memiliki kamu, kamu sahabat yang mau menerima aku apa adanya. Kamu selalu membelaku, menyemangati aku, dan mengusap air mata saat orang-orang mengejek dan mencela kehidupanku” Ajeng berkaca-kaca.
            “Sudahlah, ayo hapus kesedihan itu. Aku tak mau melihat sahabataku yang cerewet ini bersedih. Kamu tambah jelek kalau memasang wajah seperti itu” Kata Yuda sembari tersenyum, mengambil suling yang dipegang Ajeng.

            Mereka berdua tertawa bersama, menjahili satu sama lain. Sesekali mereka berdua memandangi pemandangan yang berada di pesawahan. Sungguh sore yang menyenangkan yang selalu mereka lewati bersama dengan penuh kegembiraan.